Resume Marine Ecology

Resume Marine Ecology : Accen Tuah T : 230210080020

Daftar Istilah                        : Igleysias R H : 230210080040

Sejarah Ekologi

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos (rumah) dan logos (ilmu). Istilah ekologi diperkenalkan oleh Ernst Haecckel (1866) dengan pengertian: Ekologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari seluk beluk ekonomi alam, sesuatu kajian mengenai hubungan anorganik serta lingkungan organik di sekitarnya yang kemudian pengertian ini diperluas, yang umumnya tertera dalam berbagai kamus dan ensiklopedia, menjadi kajian mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ilmu Ekologi ini berkembang sekitar tahun 1800-an. Ekologi ini sangat berhubungan erat dengan beberapa faktor, yaitu: habitat, relung, adaptasi, evolusi, konsep relung atau niche, suksesiprimer, faktor pembatas.

Ekologi terbagi menjadi 3 apabila dilihat dari variasi produktifitasnya yaitu ekologi laut tropis, ekologi laut subtropis dan ekologi laut kutub. Negara kita sendiri Indonesia adalah termasuk kedalam ekologi laut tropis yang mendapat sinar matahari sepanjang tahun sehingga menyebabkan mengalami 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Keadaan yang sedemikian ternyata memberi keuntungan karena produktifitas konstan terjadi sepanjang tahun. Berbeda dengan laut subtropics yang hanya mengalami produktifitas tinggi pada musim semi. Apalagi laut kutub yang masa produktifitasnya pendek disebabkan oleh sedikitnya cahaya yang diterima pada daerah ini.

Ekologi laut tropis erat hubungannya dengan lingkungan hidup bahari. Di bagian dunia yang memiliki iklim tropis, matahari bersinar terus-menerus sepanjang tahun (hanya ada dua musim: hujan dan kemarau), yang mengakibatkan produksi fitoplankton berada pada kondisi optimal dan konstan sepanjang tahun. Pada lingkungan hidup bahari Laut merupakan penghubung, bagian bumi yang merupakan sumber bahan makanan untuk melengkapi bahan makanan dari daratan juga sumber mineral, energy fosil (minyakbumi) yang banyak didapatkan dilepas pantai, sumber energi tidal dan memiliki keanekaragaram yang sangat tinggi, khususnya dilaut tropik: terumbu karang, mangrove.

Adaptasi dan Evolusi.

Adaptasi merupakan sifat yang di kendalikan secara genetik yang membantu organ atau individu untuk dapat hidup dan berkembang biak sesuia ddengan lingkungan habitatnya. organisme yang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk:

  • memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan).
  • mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas.
  • mempertahankan hidup dari musuh alaminya.
  • bereproduksi.
  • merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Organisme yang mampu beradaptasi akan bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan menghadapi kepunahan atau kelangkaan jenis. Adaptasi terbagi atas tiga jenis yaitu: adaptasi morfologi, adaptasi fisologi, dan adaptasi tingkah laku.

Evolusi merupakan seleksi alam terhadap faktor genetik yang memakan waktu yang lama. Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasiorganisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi.

Habitat, Relung (Niche)

Habitat adalah tempat hewan tinggal dan berkembang biak. Berbagai organisme yang hidup di laut tropis membutuhkan tempat hidup. Tempat hidup inilah yang di sebut dengan relung (niche). Konsep relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927), seorang ilmuwan Inggris. Niche tidak hanya meliputi ruang/tempat yang di tingggali organisme, tetapi juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradien lingkungan: temperatur, kelembaban, ph, substrat, dan kondisi lain. Pengetahuan tentang niche diperlukan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama organisme-organisme tersebut. Niche tidak hanya diartikan dimana organisme tadi hidup, tetapi juga pada apa yang dilakukan organisme termasuk mengubah energi, bertingkah laku, bereaksi, mengubah lingkungan fisik maupun biologi, dan bagaimana organisme dihambat oleh spesies lain.

Siklus Biogeokimia

Biogeokimia adalah pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup. Semua faktor lingkungan beserta organisme hidup tersebut berada dalam suatu siklus yang terus-menerus, yang disebut siklus biogeokimia. siklus biogeokimia merupakan suatu siklus senyawa kimia yang mengalir dari komponen biotik dan abiotik dan kemudian kembali lagi ke kompenen biotik. komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksireaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia. Fungsi siklus Biogeokimia adalah sebagai siklus materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga.

Siklus biogeokimia terdiri dari beberapa macam siklus ,siklus-silkus tersebut antara lain silkus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus sulfur. Tetapi bahasan yang akan kita bahas adalah hanya 3 macam siklus yaitu, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus fosfor.

1. Siklus Nitrogen (N2)

Gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas dapat ditambat/difiksasi terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/ petir.Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (N02- ), dan ion nitrat (N03- ).Beberapa bakteri yang dapat menambat nitrogen terdapat pada akar Legum dan akar tumbuhan lain, misalnya Marsiella crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp.(ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen. Nitrogen yang diikat biasanya dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan yang mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem.

2.    Siklus Fosfor

Posfor merupakan elemen penting dalam kehidupan karena semua makhluk hidup membutuhkan posfor dalam bentuk ATP (Adenosin Tri Fosfat), sebagai sumber energi untuk metabolisme sel. Posfor terdapat di alam dalam bentuk ion fosfat (PO43-). Ion Fosfat terdapat dalam bebatuan. Adanya peristiwa erosi dan pelapukan menyebabkan fosfat terbawa menuju sungai hingga laut membentuk sedimen. Adanya pergerakan dasar bumi menyebabkan sedimen yang mengandung fosfat muncul ke permukaan. Di darat tumbuhan mengambil fosfat yang terlarut dalam air tanah. Herbivora mendapatkan fosfat dari tumbuhan yang dimakannya dan karnivora mendapatkan fosfat dari herbivora yang dimakannya. Seluruh hewan mengeluarkan fosfat melalui urin dan feses. Bakteri dan jamur mengurai bahan-bahan anorganik di dalam tanah lalu melepaskan pospor kemudian diambil oleh tumbuhan. Senyawa fosfor di alam terbagi dalam dua yaitu, senyawa fosfat organik (pada hewan dan tumbuhan) dan senyawa fosfat anorgani (pada air dan tanah). fosfat organik yang terdapat dalam hewan dan tumbuhan yang mati akan di uraikan oleh decomposer dan menjadi fosfat anorganik. Lalu fosfat yang terlarut di air tanah atau di air laut  akan mengendap di di sedimen laut. Setelah itu fosfat yang dari batuan itu akan terkikis lalu akan terserap lagi oleh tumbuhan.

3. Siklus Karbon dan Oksigen

Proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler bertanggung jawab atas perubahan dan pergerakan utama karbon. Naik turunnya CO2 dan O2 atsmosfer secara musiman disebabkan oleh penurunan aktivitas Fotosintetik. Dalam skala global kembalinya CO2 dan O2 ke atmosfer melalui respirasi hampir menyeimbangkan pengeluarannya melalui fotosintesis.Akan tetapi pembakaran kayu dan bahan bakar fosil menambahkan lebih banyak lagi CO2 ke atmosfir. Sebagai akibatnya jumlah CO2 di atmosfer meningkat. CO2 dan O2 atmosfer juga berpindah masuk ke dalam dan ke luar sistem akuatik, dimana CO2 dan O2 terlibat dalam suatu keseimbangan dinamis dengan bentuk bahan anorganik lainnya. Di atmosfer terdapat kandungan COZ sebanyak 0.03%. Sumber-sumber COZ di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik. Karbon dioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara. Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, COz yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 di air.

Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu

A. Wilayah Pesisir

Wilayah pesisir adalah wilayah pertemuan antara daratan dan laut, ke arah darat meliputi bagian daratan yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan intrusi garam, sedangkan ke arah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang ada di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar serta daerah yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada garis batas yang nyata, sehingga batas wilayah pesisir hanyalah garis khayal yang letaknya ditentukan oleh situasi dan kondisi setempat.

Ekosistem pesisir baik mangrove, lamun maupun terumbu karang sangat dipengaruhi oleh komponen-komponen fisik yang ada di sekitarnya. Komponen tersebut meliputi kimia air (termasuk susunan zat-zat kimia dan kecenderungannya di laut), aliran dan pergerakan arus, interaksi antara atmosfer dan samudra, serta proses-proses alam yang terjadi di laut. Komponen ini berperan sebagai media transport materi dan energi sekaligus mendukung komponen biotik yang ada.

Wilayah pesisir dan laut secara ekologi merupakan tempat hidup beberapa ekosistem yang unik dan saling berhubungan, dinamis dan produktif. Ekosistem utama yang umumnya terdapat di wilayah pesisir meliputi:

  1. Ekosistem mangrove
  2. Ekosistem lamun
  3. Ekosistem terumbu karang

Ekosistem ini saling berinteraksi membentuk suatu konektivitas dengan menjalankan fungsinya masing-masing.

1. Ekosistem Mangrove

Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan yang penting di wilayah pesisir. Selain mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi bermacam biota, penahan abrasi, penahan amukan angin taufan, dan tsunami, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut, dan lain sebagainya, hutan mangrove juga mempunyai fungsi

ekonomis seperti penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat obatan, dan lain-lain.

Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan yang penting di wilayah pesisir. Selain mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedianutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi bermacam biota, penahan abrasi,penahan amukan angin taufan, dan tsunami,penyerap limbah, pencegah intrusi air laut, dan lainsebagainya, hutan mangrove juga mempunyai fungsiekonomis seperti penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat obatan, dan lain-lain.

ciri ciri ekosistem mangrove:

memiliki akar tidak beraturan (pneumatofora) misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau Rhizophora spp., serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil pada pidada Sonneratia spp. -dan pada api-api Avicennia spp.;

· -memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya, khususnya pada Rhizophora;

· -memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon.

Sedangkan tempat hidup hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya adalah :

· – tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang pertama;

· – tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat;

· – daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat;

· -airnya berkadar garam (bersalinitas) payau (2 – 22 o/oo) hingga asin.

MANFAAT DAN FUNGSI MANGROVE

Secara Fisik

· Penahan abrasi pantai.

· Penahan intrusi (peresapan) air laut.

· Penahan angin.

· Menurunkan kandungan gas karbon dioksida (CO2) di udara, dan bahan-bahan pencemar di perairan rawa pantai.

Secara Biologi

· Tempat hidup (berlindung, mencari makan, pemijahan dan asuhan) biota laut seperti ikan dan udang).

· Sumber bahan organik sebagai sumber pakan konsumen pertama (pakan cacing, kepiting dan golongan kerang/keong), yang selanjutnya menjadi sumber makanan bagi konsumen di atasnya dalam siklus rantai makanan dalam suatu ekosistem.

· Tempat hidup berbagai satwa liar, seperti monyet, buaya muara, biawak dan burung.

Secara Sosial Ekonomi

· Tempat kegiatan wisata alam (rekreasi, pendidikan dan penelitian).

· Penghasil kayu untuk kayu bangunan, kayu bakar, arang dan bahan baku kertas, serta daun nipah untuk pembuatan atap rumah.

· Penghasil tannin untuk pembuatan tinta, plastik, lem, pengawet net dan penyamakan kulit.

· Penghasil bahan pangan (ikan/udang/kepiting, dan gula nira nipah), dan obat-obatan (daun Bruguiera sexangula untuk obat penghambat tumor, Ceriops tagal dan Xylocarpus mollucensis untuk obat sakit gigi, dan lain-lain).

· Tempat sumber mata pencaharian masyarakat nelayan tangkap dan petambak., dan pengrajin atap dan gula nipah.

2. Ekosistem Lamun

Lamun (seagrass) meru pakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air, beberapa ahli juga mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas. Karena pola hidup lamun sering berupa hamparan maka dikenal juga istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Lamun umumnya mem bentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi per tumbuhan nya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi diperlukan untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta meng angkut hasil metabolisme lamun ke luar daerah padang lamun.

Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang luas lebih sering ditemukan di substrat lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Sedangkan sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik disebut Ekosistem Lamun (Seagrass ecosystem).Habitat tempat hidup lamun adalah perairan dangkal agak berpasir dan sering juga dijumpai di terumbu karang.

Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 52 jenis lamun, di mana di Indonesia ditemukan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili: (1) Hydrocharitaceae, dan (2) Potamogetonaceae. Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain: Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea serrulata, dan Thallassodendron ciliatum. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang juga cukup tinggi. Pada ekosistem ini hidup beraneka ragam biota laut (Gambar 17), seperti ikan, krustasea, moluska (Pinna sp., Lambis sp., Strombus sp.), Ekinodermata (Holothuria sp., Synapta sp., Diadema sp., Archastersp., Linckia sp.), dan cacing Polikaeta.

Karena pola hidup lamun sering berupa hamparan maka dikenal juga istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Air yang bersirkulasi diperlukan untuk menghantarkan zat-zat hara dan oksigen, serta mengangkut hasil metabolisme lamun ke luar daerah padang lamun. Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang luas lebih sering ditemukan di substrat lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Sedangkan sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik disebut Ekosistem Lamun (Seagrass ecosystem).Habitat tempat hidup lamun adalah perairan dangkal agak berpasir dan sering juga dijumpai di terumbu karang.

Fungsi Padang Lamun

Secara ekologis padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir, yaitu : Produsen detritus dan zat hara. Mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan sistem perakaran yang padat dan saling menyilang. Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini. Sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan matahari.

3. Ekosistem Terumbu Karang

Manfaat Terumbu Karang :

  1. Tempat tinggal ( Habitat ), berkembang biak ( nursery ground ) dan mencari makan( Feeding ground ) ribuan jenis ikan, tempat mencari ikan ( fishing ground ), dll
  2. Ekosistem Terumbu karang memberi manfaat langsung kepada manusia dengan menyediakan makanan, obat-obatan, bahan bangunan, dan bahan lain
  3. Sebagai produktivitas primer di laut , satu terumbu dapat meenunjang 3.000 jenis biota (Sri Juwana,2009)

Ancaman terhadap terumbu karang

  • Pencemaran minyak dan industri,
  • Sedimentasi akibat erosi, penebangan hutan, pengerukan serta penambangan karang
  • Peningkatan suhu permukaan laut (SPL)
  • Pencemaran limbah domestik dan kelimpahan nutrien
  • Penggunaan sianida dan bahan peledak untuk menangkap ikan
  • Perusakan akibat aktivitas pelayaran

Upaya Pelestarian

  • Mengendalikan/ meminimalkan penambangan karang untuk lahan bangunan
  • Mencegah kegiatan pengerukan atau kegiatan lainnya yang menyebabkan terjadinya endapan/ sedimentasi
  • Penyuluhan terhada masyarakat tentang pentingnya peran terumbu karang bagi ekosistem pesisir
  • Kegiatan transplantasi terumbu karang untuk memulihkan ekosistem terumbu karang yang telah rusak

Daftar pustaka:

Prof. Ir. Radyastuti Winarno.Ekologi Sebagai Dasar Untuk Memahami Tatanan Dalam Lingkungan Hidup.

Dedi. 2010. Fungsi Terumbu Karang.http://web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?option=com_content&task=view&id=22&Itemid=50. Diakses pada tanggal 12 April 2010

Endang Hilmi&Parengrengi. 2010. Kerusakan Ekosistem Mangrove di Indonesia.http://www.scribd.com/doc/11592887/Kerusakan-Ekosistem-Mangrove-Di-Indonesia. Diakses pada tanggal 12 april 2010

Supriharyono. 2008. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar, Jakarta.

STUDI KASUS:HUTAN MANGROVE DI WILAYAH LEGON KULON , SUBANG

Kabupaten Subang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Subang. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Indramayu di timur, Kabupaten Sumedang di tenggara, Kabupaten Bandung di selatan, serta Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Karawang di barat. Panjang garis pantai wilayah Kabupaten Subang 68 km serta memiliki kawasan hutan seluas 7.701,15 ha (anonim, 2004). Wilayah perairan pantai utara Subang dibatasi oleh Muara Sungai Cilamaya di bagian barat dan muara Sungai Cipunagara di bagian timur. Morfologi dan topografi pantai Subang dicirikan oleh bentuk pantai yang menjorok ke arah daratan berbentuk teluk, seperti di wilayah pantai Blanakan, serta yang menjorok ke arah laut berbentuk tanjung, seperti di wilayah pantai Legon kulon. Daerah ini merupakan kawasan pantai dengan ketinggian 0-25m dpl. Berjarak 57 km dari pusat kota Subang Hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut disebut hutan mangrove.

Hutan Mangrove

Hutan bakau atau hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantaidan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur (Bengen, 2000). Sementara ini wilayah pesisir di definisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.

KONDISI HUTAN MANGROVE LEGON KULON , SUBANG

Hutan Mangrove Legon kulon merupakan ekosistem unik yang terletak pada zona pasang surut di daerah tropis maupun sub tropis. Hutan Mangrove ini memiliki peranan penting ditinjau dari sisi ekologis maupun sosial ekonomi bagi masyarakat, serta merupakan tempat yang cocok untuk daerah asuhan (nursery ground) berpijahnya ikan, udang, kerang, kepiting, tempat bagi fauna daratan seperti burung, mamalia. Secara ekonomis hutan mangrove ini menjadi kayu bakar bagi masyarakat, dan merupakan daerah tangkapan ikan (fishing ground) bagi para nelayan.

Namun pesatnya pertambahan jumlah penduduk di pulau Jawa umumnya atau di wilayah Kabupaten Subang khususnya, menyebabkan makin mendesaknya tuntutan masyarakat setempat untuk memperoleh manfaat ekonomis dari kawasan mangrove. Hal ini dapat ditunjukkan oleh adanya upaya konversi ekosistem mangrove oleh masyarakat setempat menjadi lahan tambak, lahan pertanian, pemukiman dan lain-lain. Kegiatan konversi ekosistem mangrove menjadi lahan tambak atau lahan pertanian di wilayah Propinsi Jawa Barat telah dilakukan oleh masyarakat setempat puluhan tahun yang lalu (sejak tahun 1957). Karena itu, kawasan mangrove di wilayah kabupaten ini telah berubah fungsi menjadi kawasan pertambakan, pertanian, pemukiman, dan lainnya. Dewasa ini nuansa mangrove di wilayah tersebut hampir tidak tampak lagi. Hal ini juga diindikasikan oleh jenis mata pencaharian mayoritas penduduk desa-desa di dalam dan sekitarnya sebagai petambak, penangkap ikan, petani dan buruh tani. Sektor pertanian yang di dalamnya termasuk sektor perikanan budidaya, merupakan sektor yang paling dominan di Kabupaten Subang yang mampu mempekerjakan 51,3% dari total penduduknya (anonim, 2005 b). Selain itu, Kabupaten Subang selain memiliki potensi hasil laut berupa ikan tangkapan laut, juga memiliki potensi ikan hasil budidaya tambak, wisata pantai dan perluasan daratan akibat tanah timbul. Keberadaan sektor perikanan budidaya dalam perekonomian Subang tidak terlepas dari makin kuatnya jaringan kerja dan kelembagaan petani petambak di wilayah tersebut.

Aliran Materi pada Ekosistem Mangrove

Proses-proses kimiawi yang terjadi dalam ekosistem mangrove juga memberikan pengaruh bagi ekosistem lain di sekitarnya, seperti ekosistem lamun dan terumbu karang. Sebagian besar proses kimiawi dalam ekosistem mangrove terjadi di dalam substrat dan kolom air. Beberapa parameter yang penting dalam proses ini diantaranya adalah kekeruhan (siltasi), konduktivitas elektrik dan kapasitas pertukaran kation. Konsentrasi nutrien juga merupakan faktor yang penting. Dalam hal ini, mangrove termasuk ekosistem yang seimbang karena sangat efektif dalam menyimpan (sink) nutrien dengan menyerap nitrogen terlarut, fosfor dan silikon. Transfer unsur hara (fluxes nutrien) terjadi melalui proses fotosintesis dan proses mineralisasi oleh bakteri (Kathiresan, 2001).

Tumbuhan mangrove berperan meningkatkan kandungan nutrien dalam substrat melalui serasah berupa daun yang gugur dan materi organik/debris yang terjebak oleh akar. Substrat akan kehilangan zat hara lebih cepat jika komunitas mangrove menghilang. Kaly et al., 1997 dalam Kathiresan 2001 melaporkan, bahwa kerusakan komunitas mangrove di wilayah Queensland Utara, Australia, menyebabkan hilangnya konsentrasi nitrogen dan fosfor secara signifikan dari dalam substrat.

Komunitas mangrove seringkali mendapatkan suplai bahan polutan seperti logam berat yang berasal dari limbah industri, rumah tangga dan pertanian (pupuk yang larut dalam air). Mangrove dalam keadaan normal memiliki kandungan logam berat yang rendah. Silva et al., 1990dalam Khatiresan 2001, melaporkan bahwa sedimen di mana komunitas mangrove tumbuh di Teluk Sepetiba, Rio De Janeiro, Brazil, memiliki kandungan Mn dan Cu sebesar 99 %, bahkan kandungan Fe, Zn, Cr, Pb dan Cd hampir mencapai 100% dari total kandungan logam berat pada ekosistem mangrove tersebut. Namun, kandungan logam berat yang terdapat pada jaringan tubuh dari spesies Rhizophora mangle yang tumbuh di atasnya hanya sebesar mencapai 1 % saja. Dengan demikian, tumbuhan mangrove memiliki kemampuan untuk mencegah logam berat memasuki jaringan tubuhnya. Hal ini didukung oleh penelitian dari Sadiq dan Zaidi 1994 dalam Khatiresan 2001 yang dilakukan di Teluk Arab, Saudi Arabia. Kedua peneliti tersebut menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kandungan logam berat yang terdapat di jaringan tubuh mangrove dengan kandungan logam berat yang terdapat dalam sedimen (substrat) dimana mangrove tersebut tumbuh.

Rantai Makana di Hutan Mangrove Legon kulon , Subang.

Pada ekosistem mangrove ini, rantai makanan yang terjadi adalah rantai makanan detritus.Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Selama proses dekomposisi, serasah mangrove berangsur-angsur meningkat kadar proteinnya dan berfungsi sebagai sumber makanan bagi berbagai organisme pemakan deposit seperti moluska, kepiting dang cacing polychaeta. Konsumen primer ini menjadi makanan bagi konsumen tingkat dua, biasanya didominasi oleh ikan-ikan buas berukuran kecil selanjutnya dimakan oleh juvenil ikan predator besar yang membentuk konsumen tingkat tiga.

Sumber:

Anonim. 2009. Keterkaitan Ekosistem di Wilayah Pesisir

http://perikananunila.wordpress.com/2009/08/01/keterkaitan/

Anonim. 2010. Fauna Mangrove dan Interaksi di Ekosistem Mangrove.http://web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?option=com_content&task=view&id=18&Itemid=57

Accen :230210080020

igleysias: 230210080040

Ilmu Kelautan

Terumbu Karang dan Perubahan Iklim

oleh Accen T Tarigan
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
LABORATORIUM KOMPUTER ILMU KELAUTAN

Rusaknya Terumbu Karang Oleh Perubahan Iklim

Karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut utama. Terumbu karang merupakan kumpulan fauna laut yang berkumpul menjadi satu membentuk terumbu. Struktur tubuh karang banyak terdiri atas kalsium dan karbon. Hewan ini hidup dengan memakan berbagai mikroorganisme yang hidup melayang di kolom perairan laut.Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang, terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Tergantung dari jenis, dan kondisi perairannya, terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa milimeter saja per tahunnya. Yang ada di perairan Indonesia saja saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. Terumbu Karang menjadi rumah bagi ribuan spesies makhluk hidup. Jika rumahnya saja dalam kondisi tidak baik atau bahkan hancur, bisa dibayangkan berapa banyak makhluk hidup yang terancam punah.

Eksistensi Indonesia sebagai salah satu pusat terumbu karang diyakini terus mengalami degradasi. Tentunya masalah itu, akan semakin meluas jika tidak segera diambil langkah-langkah untuk melestarikannya. Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia juga dikenal sebagai salah satu pusat keanekaanragama hayati laut dunia dengan kekayaan terumbu karangnya. Indonesia memiliki kawasan terumbu karang yang terbesar di dunia. Indonesia memiliki garis pantai kira-kira 2.915.000 dimana daerah terumbu karang menghuni hampir 51.020 m2. Sebagai daerah equatorial yang memiliki keragaman karang yang sangat besar, Indonesia memiliki 17% dari keanekaragaman yang ada di dunia. Hampir semua spesies terumbu karang yang ada di dunia berada di Indonesia. Namun sayangnya, saat ini kekayaan terumbu karang Indonesia justru terancam rusak akibat berbagai hal, salah satu nya adalah karena perubahan iklim. Ketergantungan akan sinar matahari mengakibatkan terumbu karang hanya dapat hidup pada daerah yang masih mendapat intensitas cahaya matahari sepanjang tahun sehingga pada umumnya mendiami perairan pantai pada kedalaman 0 hingga 90 m. Ekosistem karang pada umunya dapat dijumpai pada lintang 250 S dan 250 N, hal ini dikarenakan pada kondisi ini terumbu karang dapat melakukan proses metabolisme yang optimal bagi kehidupannya walaupun ada sebagian kecil karang yang berada di lintang tinggi.

Isu mengenai global warming yang banyak dibicarakan, berdampak besar pada terumbu karang. Peningkatan suhu permukaan laut telah menyebabkan pemutihan karang (bleaching) yang lebih parah dan lebih sering. Peristiwa-peristiwa alam seperti El Nino dan Tsunami juga menyebabkan kerusakan yang serius terhadap kelangsungan hidup terumbu karang. Di dasar laut, terumbu karang akan menjadi biota yang paling terancam dampak perubahan iklim karena sifatnya yang sensitif terhadap kenaikan suhu. Perbedaan suhu, betapa pun kecilnya, misalnya satu hingga dua derajat Celsius, dalam beberapa pekan saja akan membuat terumbu karang mati. Badai El Nino yang terjadi lebih dari satu dekade silam, misalnya, membuat hampir separuh gugusan terumbu karang Indonesia rusak. Padahal terumbu karang merupakan rumah tempat ikan mencari makan.

Kerusakan terumbu karang berdampak langsung pada ekosistem. Ikan akan lenyap karena tak ada sumber makanan. Penyu yang mencari makan di sekitar karang akan berpindah ke tempat lain. Laut menjadi kolam mati, yang tak memberikan nilai ekonomi. Teluk Jakarta adalah contoh laut yang akan menjadi kolam mati. Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Suharsono mengatakan sekitar 98 persen terumbu karang di Jakarta dalam kondisi rusak berat .

Dampak perubahan iklim pada kelestarian terumbu karang dunia menjadi perhatian serius dari enam negara di kawasan Coral Triangle (segi tiga terumbu karang dunia-red). Jika dunia tidak mengambil tindakan efektif terhadap perubahan iklim, terumbu karang akan hilang dari kawasan Coral Triangle pada akhir abad ini, kemampuan daerah pesisir menghidupi daerah sekitarnya akan berkurang 80 persen, dan penghidupan sekitar 100 juta orang akan hilang atau mengalami dampak sangat buruk.

Sebagai gambaran, di tahun 2005, sektor perikanan Indonesia saja telah menyumbangkan 7,5 juta pekerjaan atau lebih dari US$ 10,67 milyar. Belum termasuk pemasukan dari sektor turisme dan konservasi pesisir dan laut. Sementara Coral Triangle mencakup pantai, terumbu karang, dan laut dari enam negara – Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.
Tapi aksi global perubahan iklim yang efektif dan keprihatinan regional terhadap permasalahan penangkapan ikan secara berlebihan (over-fishing) dan pencemaran dapat mencegah bencana, seperti yang dijelaskan oleh WWF dalam kajian kemungkinan skenario tentang lingkungan, ekonomi dan sosial di World Ocean Conference.

Coral Triangle and Climate Change: Ecosystems, People, and Societies at Risk, dibuat berdasarkan lebih dari 300 publikasi studi ilmiah dan termasuk karya lebih dari 20 pakar di bidang-bidang, seperti biologi, ekonomi, dan perikanan, yang menunjukkan dua kemungkinan masa depan di abad ini bagi lingkungan laut terkaya di dunia.

Coral Triangle, hanya 1 persen dari permukaan bumi, mencakup 30 persen dari terumbu karang dunia dan 76 persen dari spesies karang yang membentuknya, dan lebih dari 35 persen dari spesies ikan terumbu karang juga sebagai tempat bertelurnya ikan yang strategis secara ekonomis, seperti ikan tuna. Di kawasan Coral Triangle ini tingkat spesies karang yang tertinggi ditemukan di tanjung kepala burung Papua, yang menjadi tuan rumah bagi lebih dari 574 spesies – 4 kali lipat seluruh spesies di Samudra Atlantik.

Ancaman terhadap kelangsungan hidup terumbu karang, mengakibatkan kerusakan lingkungan yang besar. Terumbu karang yang merupakan sentral dari ekosistem laut sangat mempengaruhi kehidupan di laut. Komposisi oksigen di laut menjadi berkurang. Banyak biota laut, baik hewan maupun tumbuhan akan ikut musnah jika terumbu karang menjadi rusak. Selain itu, di daerah-daerah pesisir pantai akan mudah terjadi abrasi, mengakibatkan perubahan lingkungan yang drastis dan membuat tidak adanya perlindungan terhadap daerah pantai. Berbagai pencemaran yang terjadi bukan hanya merusak laut tapi juga mengancam kesehatan manusia. Ikan yang ditangkap dengan menggunakan racun kemudian di konsumsi sangat membahayakan manusia.

Hal di atas menggambarkan bahwa ekosistem pesisir dan laut sangat rentan terhadap pemanasan global, yang pada akhirnya akan berdampak pada kelompok masyarakat rentan. Nelayan dan kaum miskin di wilayah pesisir akan menjadi korbannya. Hingga saat ini nelayan sudah semakin sulit untuk menentukan kapan sebaiknya melaut karena ”musim” ikan semakin sulit diketahui. Meski laut menjadi korban, sebenarnya laut pula yang dapat menyelamatkan bumi karena dengan fitoplankton-nya mampu menyerap emisi karbon di bumi. Oleh karena itu, membangun dan mengelola pesisir dan laut ke depan mesti memperhatikan asumsi laut sebagai korban dan sekaligus laut sebagai penyelamat terhadap pemanasan global. Dengan demikian, makna laut dalam pembangunan baik dalam ekonomi maupun jasa lingkungan kini makin penting, sehingga perlu pengarus-utamaan kelautan dalam kebijakan nasional, khususnya dalam kebijakan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Sehingga, masa depan laut kita sangat tergantung dari kecerdasan kita mendesain kebijakan mengantisipasi perubahan iklim global ini.

Daftar Pustaka
Jakarta: LIPI.Burke,Lauretta. Elizabeth Selig. Mark Spalding.
Reefs at Risk in Southeast Asia.
http://www.wikipedia.org
http://www.duaberita.com/main/artikel-dua/dua-lingkungan/46-dampak-pemanasan-globalkelautan-paling-terancam.html
http://www.wwf.or.id/berita_fakta/pressrelease/?7140/Tekanan-Perubahan-Iklim-terhadap-Terumbu-Karang